Ketika Pahlawan Kabut Asap Justru Jadi Korbannya
Alm. Ahkmad Rizani (53) Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Palangka, sosok pahlawan yang berkorban nyawa demi memadamkan karhutla di Kota Palangka Raya (Foto: Istimewa)

Ketika Pahlawan Kabut Asap Justru Jadi Korbannya

Akhmad Rizani, pria 53 tahun yang sudah lebih dari sepuluh tahun bergabung dari bagian Tim Siaga Api Kelurahan (TSAK) Palangka, meninggal dunia, Kamis (27/8/2026) siang.

TIMES Kalteng,Kamis 27 Agustus 2026, 18:32 WIB
244
M
Muhammad Zailani

PALANGKA RAYAKabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum hilang dari langit Kota Palangka Raya. Namun korban jiwa sudah terenggut kembali. 

Kali ini bukan dari hutan yang terbakar, tapi dari salah satu orang yang selama bertahun-tahun menjadi garda terdepan memadamkannya.

‎Akhmad Rizani, pria 53 tahun yang sudah lebih dari sepuluh tahun bergabung dari bagian Tim Siaga Api Kelurahan (TSAK) Palangka, meninggal dunia, Kamis (27/8/2026) siang.

Ia mengembuskan napas terakhir setelah enam hari berjuang di RS Betang Pambelum, setelah sesak napas yang dideritanya saat memadamkan api tak kunjung membaik.

‎Warga Jalan Mendawai VI ini dikenal sebagai sosok yang tak pernah absen turun ke lapangan. Sejak masih menjabat sebagai RT, ia sudah aktif di TSAK, bahkan dipercaya untuk memimpin TSAK Palangka.

‎Istrinya, Wahidah (33), bercerita bahwa suaminya sebenarnya sudah beberapa kali mengeluh sesak napas akibat asap. Tapi baginya, tanggung jawab sebagai ketua tim lebih besar dari rasa sakitnya sendiri.

‎"Karena beliau kan ketua tim, dan merasa itu tanggung jawab beliau. Jadi walaupun kondisinya kurang sehat, tetap dipaksakan turun ke lokasi," kenang Wahidah.

‎Rizani juga tercatat sebagai bagian dari Satuan Tugas (Satgas) penanganan karhutla di wilayahnya. Keluhan sesak napas itu pertama kali muncul pada Jumat malam. Esoknya, Sabtu siang, kondisinya drop dan ia langsung dilarikan ke rumah sakit.

‎Enam hari dirawat, hanya malam pertama Rizani masih sempat berbicara dengan keluarganya. Setelah itu, kondisinya terus menurun hingga akhirnya tak mampu bertahan.

‎Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Wahidah dan empat anaknya. Rina Febriana (29), Fathul Muin (25), Nurhani Mauliada (14), dan si bungsu Khairul Anwar yang baru berusia 3 tahun.

‎Meski kehilangan sosok yang begitu berarti, Wahidah memilih untuk tetap tegar. Ia mengucapkan terima kasih atas perhatian pemerintah daerah dan penanganan maksimal dari pihak rumah sakit selama suaminya dirawat.

‎"Semua usaha sudah dilakukan semaksimal mungkin. Tuhan yang berkehendak lain," ujarnya pelan.

‎Kisah Akhmad Rizani menjadi alarm bahwa di balik setiap titik api yang berhasil dipadamkan, ada relawan-relawan seperti dirinya yang mempertaruhkan kesehatan, bahkan nyawa, demi melindungi warga dari bahaya asap karhutla yang masih terus mengancam. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhammad Zailani
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Kalteng, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.