Profesi Sunyi Aida, Dua Puluh Tahun Merias Jenazah di Palangka Raya
Siti Aida saat menceritakan profesi kerja yang tidak biasa ditekuni orang lain (Foto: Zailani/TIMES Indonesia)

Profesi Sunyi Aida, Dua Puluh Tahun Merias Jenazah di Palangka Raya

Di Kota Palangka Raya, kalau bicara soal merias wajah orang yang sudah meninggal, hampir semua orang akan menyebut satu nama saja - Siti Aida.

TIMES Kalteng,Kamis 10 September 2026, 20:58 WIB
68
M
Muhammad Zailani

PALANGKA RAYAAda satu nomor telepon yang tersimpan di ponsel banyak keluarga di Kota Palangka Raya, disimpan diam-diam, tidak pernah dihapus, dengan harapan tidak akan pernah dipakai.

Nomor itu milik Siti Aida - perempuan yang akan datang ketika seseorang sudah tidak bisa lagi tersenyum sendiri, dan keluarganya ingin ia terlihat tenang untuk terakhir kalinya.

‎Di Kota Palangka Raya, kalau bicara soal merias wajah orang yang sudah meninggal, hampir semua orang akan menyebut satu nama saja - bukan karena dia yang paling terkenal, tapi karena memang tidak ada yang lain.

‎Aida, kelahiran 1988, sudah dua puluh tahun lebih menjalani profesi yang jarang diucapkan orang di meja makan, profesi yang membuatnya jauh lebih akrab dengan bau formalin daripada wangi parfum.

‎Ceritanya justru bermula dari kematian.

Aida dulunya perawat lansia. Tapi seperti yang sering terjadi pada perawat lansia, pasien-pasiennya kebanyakan dari kalangan-kalangan yang beragam Nasrani. satu demi satu pergi dalam perawatannya. 

Ia yang menemani mereka sampai napas terakhir, ia pula yang akhirnya sering ikut memandikan jenazah mereka.

‎Suatu hari, sekitar awal 2000-an, ada pasien dari keluarga seorang direktur rumah sakit yang meninggal dalam perawatannya, Aida ikut memandikan jenazah itu di rumah sakit, dan cara kerjanya yang telaten rupanya diperhatikan orang. 

Ia ditawari untuk membantu lebih sering. Dari sana permintaan pelan-pelan bergeser bukan cuma memandikan, tapi merias wajah seseorang yang sudah tak bernyawa.

‎Sejak 2005 ia mulai serius menekuninya, meski awalnya cuma sampingan. Tapi seperti kebanyakan hal yang dimulai iseng, lama-lama ini jadi jalan hidup.

‎Dua belas tahun terakhir, panggilan datang nyaris setiap hari dari rumah sakit, dari gereja, dari keluarga yang menghubunginya langsung.

‎"Job masuk terus, setiap hari pasti ada," katanya, seolah itu sudah sewajar cuaca

‎Kini jangkauannya bahkan sampai keluar kota seperti ke Sampit, Kapuas, sampai Banjarmasin.

Siti Aida (ida) saat tengah bekerja (Foto: Aida For TIMES Indonesia)
Siti Aida saat tengah bekerja (Foto: Aida For TIMES Indonesia)

‎Merias orang hidup dan merias jenazah, kata Aida, adalah dua dunia yang sama sekali berbeda. Orang hidup bisa protes kalau matanya dibuat terlalu tajam, bisa menutup mulut kalau digoda tertawa.

Jenazah tidak begitu. Ia diam, kaku, dan sering kali sudah tidak lagi menuruti kemauan siapa pun termasuk tangan yang mencoba mempercantiknya.

‎Salah satu musuh terbesarnya justru bukan wajah itu sendiri, melainkan waktu. Ia harus berpacu dengan petugas yang menyuntikkan formalin.

Kalau ia terlambat saat di perjalanan kena hujan di jalan, misalnya jenazah sudah keburu disuntik dan tubuhnya mengeras.

Setelah itu, riasan jadi jauh lebih sulit dibentuk. Maka ia dan pihak rumah sakit sudah punya semacam kesepakatan tak tertulis usahakan Aida datang dulu, baru proses pengawetan menyusul.

‎Ada juga hal-hal kecil yang bikin pekerjaan ini rumit dengan caranya sendiri.

Mulut yang tidak mau menutup rapat, mata yang setengah terbuka meski sudah ditekan pelan, atau cairan yang terus merembes keluar tanpa henti.

Semua itu bisa membuat hasil riasan tidak pernah benar-benar sempurna, walau ia sudah mencoba sekuat tenaga.

‎Ia masih ingat betul job pertama yang benar-benar menguji nyali, yaitu ketika merias jenazah korban kecelakaan.

Aida menceritakan wajah jenazah hancur tak berbentuk. Suaminya memohon, hanya satu permintaan "Tolong buat istri saya tetap cantik".

Tidak ada wajah utuh untuk dijadikan patokan, Aida akhirnya memakai foundation yang teksturnya nyaris seperti dempul, ditempel tebal-tebal, dibentuk ulang semirip mungkin dengan wajah asli perempuan itu dari foto.

‎Selain itu, Ada lagi kasus yang membuatnya sempat ragu untuk menerima job nya. Kali ini, job datang dari korban ledakan gas, kulitnya melepuh di sekujur wajah.

Anak-anaknya datang membawa satu harapan kecil biar luka ibunya tidak terlalu kelihatan saat dilihat untuk terakhir kali.

Aida sempat berpikir ini mustahil. tapi tetap mencobanya. Aida menyeprotkan kulit yang melepuh dengan hairspray, ditunggu sampai kering, baru ditempel foundation tebal di atasnya.

‎Aida menjelaskan bahwa tidak semua foundation cocok untuk semua kulit.

‎"Tidak semua foundation itu masuk, tergantung kulitnya juga," katanya, seperti sedang menjelaskan resep yang sudah ia hafal di luar kepala.

‎Pernah pula ia berhadapan dengan jenazah yang baru ditemui keluarganya tiga hari kemudian, sudah membeku di lemari pendingin. Ia harus mengakali bagaimana caranya riasan bisa menempel di kulit yang sekeras es.

‎Meski begitu, bukan berarti semua bisa ia tangani untuk dirias. Korban tenggelam, misalnya, sudah di luar kemampuan siapa pun untuk dirias baik itu muslim atau bukan, sama saja.

‎"Kalau bisa, kita bilang bisa. Kalau enggak, ya bilang enggak," ujarnya, tanpa basa-basi.

‎Bertahun-tahun bekerja sendirian di ruang jenazah, larut malam, tentu meninggalkan cerita yang sulit dijelaskan dengan akal sehat semata. 

Salah satu yang paling melekat di ingatannya terjadi di ruang jenazah Rumah Sakit Muhammadiyah Palangka Raya tempat yang menurutnya 'tidak pernah berubah dari dulu'.

‎Malam itu ia sedang merias sendirian, menjelang tengah malam, ketika pintu yang baru saja ditutup rapat oleh seorang perawat tiba-tiba terkunci sendiri. 

Ia memanggil, minta dibukakan. Dari luar ada suara menyahut, bilang sebentar lagi akan dibuka. 

Belakangan baru ia tahu tidak ada satu pun keluarga jenazah yang berdiri dekat pintu pada malam itu. Semuanya menunggu jauh di ujung lorong, dekat pagar.

‎Aida sempat melihat jam saat itu setengah dua belas malam. Dan menurutnya, kejadian-kejadian ganjil semacam ini memang paling sering muncul di atas jam 12.

‎Tapi anehnya, Aida tidak pernah benar-benar merasa takut. Baginya semua itu sudah jadi bagian dari risiko pekerjaannya, sesuatu yang ia terima begitu saja. 

Ia percaya, jasad memang sudah berhenti bernapas, tapi belum tentu 'yang punya' benar-benar sudah pergi.

‎"Jasad memang mati, tapi ruhnya itu selalu mengerti," katanya pelan. 

Ia yakin, siapa pun yang sedang ia mandikan atau ia rias entah muslim, entah Kristen tetap melihat bagaimana ia diperlakukan.

‎Karena keyakinan itu pula, ia selalu bicara pelan-pelan pada setiap jenazah yang ia tangani. Minta izin sebelum mulai. Minta maaf kalau riasannya kurang sempurna. Berterima kasih karena sudah dipercaya keluarganya. 

Dan di akhir setiap sesi, ada satu kalimat yang selalu ia ucapkan, semacam pamit sekaligus penutup. Tugasnya sudah selesai, dan ia berharap tidak 'diikuti' pulang.

‎Di balik nuansa yang serba tidak biasa itu, pekerjaan ini tetap punya hitung-hitungannya sendiri. Untuk merias wajah, Aida biasa dibayar mulai dari Rp700 ribu ke atas. 

Untuk memandikan, tarifnya berbeda lagi dan menurutnya justru lebih rendah, meski butuh tenaga lebih besar.

‎"Kalau memandikan itu butuh tenaga. Kalau merias, butuh skill. Nggak semua orang cocok sama riasan kita," jelas Aida, sambil menegaskan kenapa dua pekerjaan itu tidak bisa disamakan. 

Satu wajah biasanya selesai dalam waktu setengah jam, dan dalam sehari ia bisa menangani sampai lima jenazah.

‎Ia bahkan punya semacam 'garansi' untuk hasil kerjanya. 

Kalau dalam tiga hari sebelum pemakaman, ada bagian riasan yang berubah kena reaksi formalin, misalnya, keluarga tinggal menghubunginya lagi, dan ia akan datang membetulkan tanpa biaya tambahan.

‎Meski sudah puluhan tahun menjalani ini, tubuhnya bukan tanpa batas. Kelelahan dan kebiasaan lupa makan pernah membuatnya kena vertigo, sampai akhirnya adiknya sendiri ikut turun tangan membantu.

‎Kini, Aida tidak sendiri. Ia dibantu adik kandungnya. Berdua barangkali satu-satunya orang di seluruh Kalimantan Tengah yang menekuni profesi ini. 

Tapi sang adik punya satu batas yang tidak bisa ia lewati - merias jenazah bayi.

‎"Adik saya itu gak bisa kalo urusan bayi, Rasa ibunya kelewat besar, gak tegaan" kata Aida.

‎Aida mengatakan, bahwa tidak semua keluarga yang datang untuk meminta di rias jenazah punya uang. Ada yang datang dari kampung, bahkan untuk sekadar biaya memandikan pun tidak punya. 

Dalam situasi seperti itu, Aida mengaku sering tetap turun tangan merias, tanpa berharap dibayar semata karena merasa wajah itu pantas terlihat baik untuk terakhir kalinya.

‎Dua puluh tahun bergelut dengan kematian rupanya mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar teknik merias. 

Ia mengaku, justru dari pekerjaan inilah ia benar-benar memahami arti ikhlas sebenar-benarnya - bekerja sepenuh hati tanpa berharap apa-apa, dan menemukan kebahagiaan kecil setiap kali keluarga yang berduka sempat mengucap terima kasih.

‎"Ikhlas itu, ternyata rasanya kayak senang, ada kebahagiaan tersendiri kalau bisa bantu orang." katanya.

‎Dan begitulah malam-malam Aida berlalu sendirian di ruang jenazah, dikelilingi bau formalin dan cahaya lampu yang temaram.

Aida menjadi satu-satunya orang di kotanya yang tahu betul bagaimana caranya mengembalikan ketenangan pada wajah yang sudah tidak lagi bisa memilih ekspresinya sendiri. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhammad Zailani
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Kalteng, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.