Pamit Mancing, Bocah di Kota Palangka Raya Hilang Terseret Arus Sungai Kahayan
Korban ternyata tidak bisa berenang. Ia terseret arus saat asyik bermain, sementara salah satu temannya sempat mencoba menolong.
PALANGKA RAYA – Izin pergi memancing bersama teman-teman berujung petaka bagi Muhammad Kaspi Rosadi.
Bocah laki-laki warga Jalan Cempedak (Kampung Baru) itu dilaporkan hilang terseret arus Sungai Kahayan, di kawasan Pelabuhan Rambang, Jalan Riau, Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Minggu (9/8/2026).
Hingga berita ini dimuat, korban belum ditemukan dan pencarian masih terus berlangsung.
Laporan pertama soal adanya orang tenggelam diterima warga sekitar pukul 11.43 WIB, saat korban bermain di pinggir sungai bersama empat rekannya.
Lurah Pahandut, Ahmad Reza, menuturkan kabar itu justru sampai ke telinganya setelah kegiatan gotong royong warga di lokasi yang sama baru saja bubar.
“Kami kelurahan, kecamatan, dan DLH kebetulan tadi itu melaksanakan gotong royong di wilayah Pelabuhan Rambang. Cuma waktu kami bubar sekitar jam 10, belum ada informasi kejadian. Setelah kami sudah kembali ke rumah masing-masing, ternyata ada informasi dari warga,” kata Reza.
Dari keterangan warga yang dihimpun Reza, empat anak tadinya hanya bercanda di tepi sungai. Persoalan muncul karena korban ternyata tidak bisa berenang. Ia terseret arus saat asyik bermain, sementara salah satu temannya sempat mencoba menolong.
“Mungkin dia khawatir, akhirnya dilepas. Lalu dia menginformasikan ke orang-orang yang lebih tua di sini, bahwasannya ada temannya yang tenggelam,” ujar Reza menirukan cerita saksi.
Reza memastikan identitas korban sudah dikonfirmasi RT setempat, korban Muhammad Kaspi Rosadi, 14 tahun, warga Kampung Baru bukan warga sekitar lokasi kejadian di RT 24 maupun RT 25.
Korban datang ke Pelabuhan Rambang bersama teman-temannya tanpa sepengetahuan orang tua.
Lokasi kejadian sendiri berupa tanah yang sedikit menurun ke arah sungai, yang selama ini kerap dipakai anak-anak setempat untuk 'perosotan' ke air.
“Belum pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya,” kata Reza.
Ia menyebut pihak kelurahan sebenarnya sudah lebih dulu mengantisipasi bahaya di bantaran sungai.
Sejak sekitar satu setengah bulan terakhir, surat edaran dari Wali Kota Palangka Raya soal imbauan keselamatan di kawasan bantaran sungai telah disebarkan ke seluruh RT dan RW, termasuk lewat teguran langsung warga dan polisi yang berjaga di lokasi.
“Kadang bisa diusir mereka, tetapi ini memang salah satu tanggung jawab orang tua juga untuk mengawasi. Tidak mungkin kita bisa mengawasi setiap hari,” ujarnya.
Rencana memasang papan larangan atau imbauan di bantaran sungai pun sudah disiapkan kelurahan namun musibah ini justru datang lebih dulu.
“Memang itu sudah kita rencanakan mau kita pasang plangnya, untuk lebih mempertegas imbauan yang sudah kita sampaikan,” kata Reza
Sementara itu, di lokasi yang sama, paman korban, Haris. Menurutnya, keponakannya itu berangkat dari rumah di Kampung Baru sejak pukul 09.00 WIB, jauh sebelum kabar duka itu terdengar. Korban pamit hendak memancing bersama teman-temannya, bukan berenang.
“Pamitnya itu saja, mau mancing saja,” ujar Haris.
Ia menyebut lokasi Pelabuhan Rambang sebenarnya cukup jauh dari rumah mereka di Kampung Baru berbeda dari kebiasaan korban yang biasanya memancing di kawasan lain bersama teman-temannya.
Informasi hilangnya korban pertama kali diketahui dari pedagang di sekitar lokasi dan teman-teman korban, sebelum akhirnya menyebar ke warga dan keluarga.
Saat ini, tim pencarian gabungan bersama warga masih menyisir Sungai Kahayan untuk menemukan korban. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

